Urus Konservasi Satwa Endemik yang Terlupakan di Indonesia, Teguh: ‘Bagai Mencari Jarum dari Tumpukan Jerami’

Urus Konservasi Satwa Endemik yang Terlupakan di Indonesia, Teguh: 'Bagai Mencari Jarum dari Tumpukan Jerami'. (Aje/jurnaljabar.com)

JURNAL JABAR – Orang  mungkin tidak pernah memikirkan bagaimana susahnya menyelamatkan satu spesies satwa endemik, agar tetap hadir dan memenuhi alam hutan.

Bahkan bisa jadi orang juga tidak faham, apa artinya kehadiran satu spesies satwa di satu lokasi, sehingga jika punah akan melahirkan ketidakseimbangan ekosistem dan itu bisa membahayakan kehidupan semua.

Dengan enteng, orang berburu satu spesies satwa karena dianggap hama atau demi uang dan kesenangan belaka. Satwa diburu dan diperjualbelikan, tanpa lagi berpikir kepentingan satwa di alam (hutan) bagi kehidupan manusia.

“Namun, itu lah yang kini lebih tampak terlihat dibandingkan berpikir bagaimana seharusnya konservasi satwa atau habitat dikerjakan?,” ujar Anggota Forum Komunikasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) Teguh Laksana di Bandung, Senin, 22 Desember 2025.

Baca juga: Entaskan Kemiskinan Sektor Perumahan, Pemkab Sumedang Serahkan Bantuan BSPS, Awas Jangan Ada Pengurangan Dana dan Spek!

Mahal, Rumit dan Lama Konservasi Satwa Endemik

Ia menyebutkan, berdasakan data dari diskusi yang difasilitasi Prigen Concervation Breeding Ark (PCBA) dan Forum Komunikasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) saja sudah terlihat.

Bayangkan, pada pertemuan 18-19 Desember 2025 di pusat PCBA TSI Prigen Jatim, diketahui untuk menyelamatkan beberapa satwa yang terabaikan dan terlupakan, semacam Babi Kutil Togean, Babi Kutil Bawean

Begitu pula dengan Jalak Suren Jawa, Murai Maratua, Monyet Kekah Natuna, Kelinci Belang Sumatera dan sebagainya, dibutuhkan satu perangkat fasilitas yang mahal. Lengkap dengan kolaborasi kurator ahli, tenaga ahli, dokter hewan.

Dibutuhkan kerjasama dari berbagai lembaga untuk mendanainya secara multiyear. Lamanya waktu juga diperlukan untuk menjadikan seekor satwa yang diterima dalam keadaan sakit, bisa tumbuh baik, beranak-pinang, bertelur, menjadi tantangan sendiri.

Baca juga: Mantap! 200 Hektare Lahan PTPN yang Curam, akan Dialih Fungsikan Gubernur KDM dari Sayuran menjadi Teh

“Belum lagi soal persiapan habitat (hutannya) tempat satwa itu kelak dikembalikan, apakah sudah siap atau malah hutannya hilang? Belum lagi susahnya persoalan kampanye penyadartahuan soal konservasinya,” ujar Teguh mengungkapkan.

Kegiatan itu, lanjutnya,  harus dirangkai dengan berbagai lembaga. Berkali kali bahkan bertahun tahun, agar semua orang mau taat menjaga satwa dan hutan. Dibutuhkan orang yang berjiwa kokoh demi kelestarian.

Akan tetapi, upaya itu dihadapkan pula tantangan dengan kebutuhan masyarakat atau lembaga dalam skala ekonomi, sehingga keberhasilan kampanye konservasi acapkali menjadi bias.

Contoh, PCBA didirikan setelah ada “sengatan” dunia pada pertemuan “the Southeast Asian Songbird Cirsis” di Singapura tahun 2015 dan 2017. Waktu itu diketahui Indonesia tenyata merupakan negara dengan tingkat terbesar penurunan populasi burung berkicau di hutan (in-situ) di Asia.

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur dan Penanganan Kawasan Sungai Citarum  Prioritas Utama Pemdaprov Jabar  

“Dipastikan informasi miring soal kepunahan populasi beberapa jenis burung berkicau itu, menunjukan tiadanya perhatian yang intens dari masyarakat dan pemangku kepentingan menjaga eksistensi mereka,” ucapnya.

 

Jalak Suren Jawa

Lebih jauh Teguh mengungkapkan, apakah usaha mahal dan rumit ini, akan berhasil 100 persen?  Jochen Menner, curator PCBA, hanya bisa menggelengkan kepala tanda tidak yakin.

Tetapi, katanya, tetap ikhitar penyelamatan haruslah dicoba.
Tuduhan lenyapnya burung berkicau di hutan itu, akibat pemburuan gelap, penyakit, hutannya rusak dan sebagainya. terngiang terus.

Akibatnya, PCBA harus didirikan sebagai salah satu jawaban. PCBA lahir dari gagasan Taman Safari Indonesia tahun 2017 bekerjasama dengan Yayasan KASI (Konservasi Alam Satwa Indonesia), ZGAP, Voegelpark Marlow dan lembaga internasional lainnya.

Baca juga: Diduga Makanan Terlalu Lama Disimpan, 105 Siswa di Ujungjaya Sumedang Keracunan MBG

“Kurator PCBA dipimpin orang Jerman, bernama Jochen K. Menner. Bukti adanya kolaborasi antar lembaga dan tenaga ahli dari Jerman, jelas menunjukan dukungan pendanaan yang besar,” ucapnya.

Susahnya Selamatkan Satu Ekor Satwa Endemik

 

Murai Maratua

Menurut Teguh, kisah penyelamatan satwa endemik (asli) Indonesia memang tidak murah dan membutuhkan kerjasama termasuk kesadaran masyarakat juga.

Seperti pembentukan PCBA itu yang tidak murah dengan hasil yang belum tentu sesuai harapan. Namun, kehadirannya diperlukan agar satwa terlupakan tadi bisa hadir banyak memenuhi alam hutan.

PCBA membangun kandang sampai 255 buah dengan berbagai ukuran dan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan satwa primate, aves dan sebagainya.

Dibutuhkan lahan yang luas tapi aman sehingga satwa bisa tumbuh baik. Disiapkan juga tenaga khusus untuk melayani para satwa agar nyaman dan sehat sehingga bisa berkembang biak.

Baca juga: Waka DPRD Kab Bandung Hailuki Soroti Normalisasi Drainase Penyebab Banjir

“Belum lagi biaya penelitian sata sawta oleh para ahli, mapping dan pemotretan satwa di hutan, sampai penanganan habitat dan satwa di insitu, semuanya harus ada dan besar,” kata Teguh.

Tantangan terbesar, lanjut dia,  ternyata bukan soal dana saja, tetapi justru lahir saat akan mengimplementasi kesadaran ber-konservasi.

Masyarakat sadar hutan

Kelinci Belang Sumatera

Masyarakat sadar hutan, tempat istimewa buat satwa dan kelestriannya penting buat kehidupan manusia. Akan tetapi, kenyataan itu acapkali sekedar difahami tanpa ada reaksi tindakan nyata untuk menjaganya.

“Atas nama kebutuhan ekonomi, eksistensi hutan harus rontok, satwa diburu dan diperjualbelikan, sebagian dikonsumsi berlebihan, sehinggaa satwa tidak tahu bagaimana harus hidup lagi,” ucapnya menyesalkan.

Dari dunia pendidikan saja, sambung Teguh, soal menanamkan kesadaran konservasi terlihat minim. Materi pendidikan Lingkungan Hidup, dominan berputar putar soal sampah dan tumbuhan.

Baca juga: Bupati Bandung Kang DS Sebut 28 Desa di Kabupaten Bandung Masuk Peta Kerawanan Pangan  

Dukungan kampanye konservasi di Indonesia juga masih terlihat sporadis tidak masif. Entah sampai kapan aksi nyata atas kesadaran bersama ini akan muncul demi sesama mahluk hidup bernama satwa?

“Yang pasti mengurus konservasi satwa endemik yang terlupakan di Indonesia bagikan ‘mencari jarum dari tumpukan jerami’, ” ujar Teguh. (Aje)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *