Apa Kabar Gerakan Pramuka Indonesia ?

Pramuka penggalang SMPN 21 Kota Bandung . (Teguh Laksana/Jurnaljabar.com)

Oleh: Teguh Laksana

Pemerhati Pramuka

 

ALHAMDULILLAH tanpa terasa hari Jumat tanggal 14 Agustus 2026, Gerakan Pramuka Indonesia berumur 65 tahun. Usia tua, –dalam analogi umur manusia itu–, dipastikan sudah banyak kisah dinamika kepramukaan, silih berganti sesuai tema masalah dan siapa yang memimpin. 

Kegembiraan tampaknya bersinar dari wajah wajah anggota pramuka dan Pembina demi menyambut hari bahagia Gerakan Pramuka. Bahkan dipastikan waktu ulang tahun ini jadi musim aksi pembacaan ulang janji kepramukaan. Katanya, kebiasaan rutinititas itu, sebagai salah satu indikator kesetiaan ber-Pramuka. 

Benarkah kini kepramukaan kian terasakan denyutnya secara kualitatif di masyarakat luas sebagai user kepramukaan ? Atau benarkah substansi konten ulang janji kehormatan kepramukaan itu sudah ngajadi dalam diri anggota pramuka dan bisa dibuktikan dalam kehidupan sehar hari..?  tampaknya butuh analisa mendalam sambil tawadhu dan mampu mengosongkan ruang batin “ke-aku-an” .

Baca juga: Sampahku Sampahmu, Sampahmu Sampahku

Disisi lain, menjelang HUT Gerakan Pramuka itu, susana menampilkan kisah berbeda. Terik matahari seolah tidak terasa, mengalahkan hati yang membara  kecewa.  Sakit hati, haru, sedih bingung bahkan bisa jadi emosi menjadi satu pemandangan memilukan saat menyimak persiapan anak anak penggalang menuju jambore nasional 2026 (jamnas) yang erlangsung sejak tanggal 13 – 20 Agustus 2026 di Buperta Cibubur Jakarta Timur. 

Fenomena itu tentu tidak berlaku bagi semua peserta didik Penggalang yang berangkat ke jamnas. Kisah itu bisa jadi hanya menimpa sedikit peseta didik dan orang tua mereka.  Beban biaya hidup dan biaya pendidikan yang bertepatan dengan jamnas ini, menjadikan mereka terpaksa dan memaksakan diri mencari peluang pembiayaan diluar kemampuannya. Berat tetapi harus ditempuh agar anak anaknya bisa jamnas sekaligus bayar sekolah bersamaan.

Secara sekilas, kenyataan itu menjadi pemandangan biasa di dalam kehidupan.   Demi Jamnas XII yang mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”, orang tua banting tulang apapun dilakukan agar anaknya berangkat Jamnas. Perjuangan orang tua demi anak memang tidak bisa ditakar dan ditukar dengan penghargaan apapun. 

Baca juga: Sidang di Era Kamera: Ketika Hukum Menjadi Tontonan

Beban Bertambah

Namun masalahnya bukan pada titik kesulitan tersebut,  justru pada pengelola Gerakan Pramuka sendiri. Apakah sudah benar langkah Gerakan Pramuka yang padat dengan semboyan kebaikan dan edukasi, merasakan denyut orang tua dan peserta didik yang kesulitan pendanaan.?

Apakah sudah benar pembina melatih dan memberikan edukasi karakter kepada peserta didik ? Dimana kwartir berempati kepada peserta didik dan orang tua? Ataukah kwartir masih saja bersemayaam sebagai mercusuar bagi dirinya ?

Dimana nafas dan substansi Dasa Darma dan Tri Satya yang diagung agungkan itu terealisasi dalam kehidupan sehari hari termasuk dalam “pembelajaran” kepramukaan sehingga peserta didik memahami  dalam melakukannya.

Atau jangan jangan kita terlalu banyak bicara bagus dan baik, penuh jargon edukasi, namun sejatinya tidak terbukti dalam ruh pembinaan di kepramukaan.

Bukti kuat, –kendati hanya secuil cerita—dengan tangisan keras 40 penggalang Ende Provinsi NTT, hampir batal berangkat karena tiadanya dana. Mereka menangis sejadi jadinya seperti yang ditayangkan media sosial. Mereka meminta pemprov NTT membiayai. 

Baca juga: Menelusuri Jejak Hukum Margawindu: Mengapa PT Bukit Jonggol Asri (BJA) Masih Menjadi Subjek Tunggal yang Sah?

Di Provinsi lain, ada juga  peserta jamnas harus mundur dan sakit hati karena tidak bisa berangkat juga karena tidak ada dana.  Bahkan ada tokoh Sunda dan pramuka, memberikan bantuan agar seorang anak didik salah satu SMPN di Kota Bandung, bisa berangkat karena juga tidak ada dana.

Bahkan bukan cerita kosong lagi, menjadi peserta jamnas atau jamboe dunia, acapkali bukan hanya didasarkan apresiasi prestasi peserta didik berlatih keras, namun dominan karena faktor fulus belaka. 

Katanya Gerakan Pramuka sekarang sudah dapat dana rakyat melalui APBN. Namun apakah memang tidak cukup, salah kelola atau salah alokasi kebanyakan buat operasional internal kwartir..? sehingga acapkali terjadi kepramukaan terkendala karena minimnya anggaran. Entahlah ..

Pramuka penggalang SMPN 21 Kota Bandung. (Teguh Laksana/Jurnaljabar.com)

Instropeksi Kelembagaan

Sikap empati yang mestinya muncul dari kepramukaan seolah menjadi barang mahal. Slogan kepramukakan mendidik agar peserta didik rajin menabung, mandiri, tahan banting, terampil, dan sebagainya, seolah juga jadi cerita kedinasan saja. Faktanya, tetap peserta didik harus meminta dan memaksa agar orang tua menyediakan semua dana untuk ber-pramuka.  Beban yang rutin muncul itu, seharusnya bukan ciri dampak  ber-pramuka dengan segundang slogan edukasinya. 

Baca juga: Farhan: Siaga Bencana Harus Menjadi Budaya Warga Kota Bandung

Bahkan disinyalir kuat, kepramukaan hanya dipandang sebagai rutinitas “kedinasan” ekstrakurikuler tanpa ruh namun harus ada karena “aturan”.  Barangkali jika ditanyakan, banyak anggota masyarakat bisa jadi tidak merasakan kebanggaan anaknya ber-pramuka, dan mungkin juga tidak lagi menjadikan anaknya dinilai “keren” karena ber-pramuka, biasa biasa aja. 

Alasannya, karena hampir tak ada bedanya anak ikut latihan  pramuka dengan yang acuh tak acuh. Sifat menabung, mandiri, memiliki motivasi tinggi untuk meraih cita cita/harapan, tidak mudah menyerah, peduli sesama, terampil dsb…menunjukan sifat baik dari Gerakan Pramuka itu tidak terlihat nyata pada jiwa anak didik pramuka. 

Patut Dievaluasi

Tampaknya patut dievaluasi cara melatih dan cara menerapkan jargon jargon edukatif yang disandang Gerakan Pramuka agar membumi pada batin dan pikiran anak didik. Sekaligus perlu dievaluasi eksisistensi kwartir dalam mendukung   gudep menjalankan amanat mulia tersebut. Bukan sebaliknya kwartir seolah menjadi mercusuar atas semuanya tanpa mau bercermin diri.

Baca juga: Perdibrofi Jabar dan Stikom Bandung Perkuat Kolaborasi Pendidikan Film dan Broadcasting

Pada sisi berbeda, gerakan pramuka khusus kwartir juga sumir tidak jelas atas kondisi pembinaan karakter pada tingkatan penggalang. Hanya karena ditentukan batas usia, pramuka penggalang mengalami kebingungan dalam pengembangan jiwanya.

Kini terbelah ada pramuka penggalang SD dan ada pramuka penggalang SMP. Padahal keduanya memiliki beban pengembangan karakter yang berbeda, namun perlakuab pramuka seolah menyamakan saja.

Jika pramuka penggalang SD sudah meraih jenjang penggalang Ramu, Rakit bahkan bisa saja Terap, begitu masuk SMP diulang lagi semuanya.  Lalu apa artinya pembinaan selama di SD. Begtu juga dalam keikutsertaan lomba, penggalang SD acapkali tidak berdaya menghadapi anggota Penggalang SMP.

Akhirnya pembina lapangan bisa jadi terpaksa membedakan materi atau penilaian terhadap penggalang SD dan SMP. Jadi seolah ada dua juara penggalang.

“Pembiaran” ini agak aneh disandang Gerakan Pramuka yang katanya mengemban misi mengembangkan karakter baik seseorang. Karena sejatinya, bukankah pembinaan karakter itu haruslah sesuai dengan kematangan usia peserta didiknya ? 

Baca juga: Urus Konservasi Satwa Endemik yang Terlupakan di Indonesia, Teguh: ‘Bagai Mencari Jarum dari Tumpukan Jerami’

Jika menyimak kiprah kwartir dalam mengelola gerakan pramuka, tampaknya masih banyak lagi kendala dalam mengartikulasikannya menjadi idola organisasi pendidikan bagi masyarakat, khususnya kaum GenZ. 

Pada HUT Gerakan Pramuka ke 65 ini, layak semua pihak di kwartir dan gudep lebih membuka diri untuk bercengkrama mengevaluasi dengan narasi narasi kritis. Langkah itu semata mata demi Gerakan Pramuka yang membahagiakan bukan sebaliknya penuh birokrasi dan beban jargon jargon. 

Sifat evaluatif nyata itu agar tidak terjebak pada rutinitas ulang janji penuh “kedinasan” belaka pada setiap hari ulang tahunnya. Sepatutnya semua konten kepramukaan menjadi bukti  mendasar dalam  membumikan ruh Dasa Darma dan Tri Satya sendiri. 

Baca juga: Antisipasi Kekeringan dan Karhutla di Musim Kemarau, KDS: ‘Jangan Tunggu Masyarakat Lapor, Pemerintah Proaktif di Lapangan!’

Inti Gerakan Pramuka adalah membekali peserta didik menjadi pembeda dengan yang tidak berpramuka. Misalnya, kata Kak Ganjar Kurnia, tokoh Pramuka Unpad, harusnya anggota pramuka  itu ditandai dengan  ibadahnya tambah rajin, sodaqohnya bagus, pedulinya baik, terampil, gesit, menjadi orang pembelajar yang tekun, prestasi di sekolahnya bagus dsb.

Foto Pramuka penggalang SMPN 21 Kota Bandung. (Teguh Laksana/Jurnaljabar.com)

Memperkuat Jati Diri Peserta Didik

Merenung dan mundur selangkah jauh lebih bijak, ketimbang membela diri atas semua hal yang sudah terjadi. Pendekatan memberdayakan peserta didik belum menemukan jalan yang diharapkan mulus, harus jadi cambuk instrospeksi bagi pengelola kwartir dan gudep semua. 

Tentunya bukan dengan memperbanyak aturan dan juklak juknis. Lebih jauh dari itu adalah bagaimana memudahkan mewujudkan semua janji kehormatan itu yang terbenam  mulut ke dalam kehidupan sehari hari. 

Baca juga: Hari Buruh Nasional, Dari Sejarah Perjuangan Menuju Keadilan yang Berkelanjutan

Jangan sampai tema Jamnas yang megah itu, seolah berbanding terbalik dalam  upaya memperkuat jati diri peserta didik sehati hari. Eksistensi HUT Gerakan Pramuka tidak boleh hanya jadi musim ulang janji saja.  Selamat ulang tahun Gerakan Pramka ku yang ke 65.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *